Kamis, 07 Juni 2018

KONSERVASI ARSITEKTUR

Konservasi Arsitektur Pelestarian Cagar Budaya 
Kawasan Kampung Luar Batang

BAB IV
USULAN DAN PELESTARIAN KAWASAN

4.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari kawasan Kampung Luar Batang ini yaitu :
  • Kampung Luar Batang cukup strategis karena dilewati oleh Jalan Gedong Panjang yang menjadi jalan penghubung antara kawasan perindustrian Pluit-Bandara Soekarno Hatta dan Pelabuhan Tanjung Priuk, 
  • Sebagai tempat yang strategis Kampung Luar Batang seperti “dikepung” oleh kebijakan pengembangan kawasan, reklamasi Perumahan Pantai Mutiara. Dasar reklamasi ini telah ada sejak tahun 1995 dimana pada saat itu dikenal dengan Jakarta Waterfront Development Program
  • Selain karena perkampungan di tengah kawasan pusat perekonomian, Kampung Luar Batang juga memiliki landmark yaitu Masjid Keramat Luar Batang. Masjid yang telah ada sejak abad ke XVII, tapi sebagai benda cagar budaya, masjid ini telah mengalami perubahan yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan bangunan aslinya pada tahun 1916.
4.2 Permasalahan
  • Selain karena jumlah luasan dari sistem drainase yang dirasa cukup kurang, yang menjadi permasalahan pada kampung ini adalah kondisi geografis dari kampung ini yang terletak dibawah permukaan laut. Akibatnya pada waktu tertentu kampung ini terendam banjir. Sejak dahulu kampung ini selalu terendam banjir, hanya saja intensitas serta lama banjir cukup singkat. Namun saat ini banjir di Kampung Luar Batang semakin sering dan lama banjirnya cukup lama bahkan hampir satu minggu,
  • Pada Kawasan ini terdapat bangunan perumahan yang kurang teratur dan padat
  • Kampung Luar Batang sebagai salah satu basis penyedia pemukiman di kawasan Penjaringan, secara internal memiliki faktor bangkitan dan tarikan alami. Dengan adanya Masjid Keramat Luar Batang sebagai pusat kegiatan di kampung ini maka banyak kegiatan perdagangan yang terfokus pada kawasan masjid dan sekitarnya. Hal ini sama seperti ditempat lain dimana terdapat interest place maka masyarakat akan berusaha mengambil keuntungan secara tidak langsung
  • Jika dikaji dalam teori linkage, maka kampung ini secara tidak langsung terhubung dengan sistem lalu lintas Tol Pelabuhan-Bandara Soekarno-Hatta, cukup dekat dengan pusat pelelangan ikan dan pasar ikan Muara Baru.   
        
4.3 Usulan dan Saran
Menurut Saya, saran untuk permasalahan dari Kawasan kampung Luar Batang, yaitu:
1. Sering terjadi banjir dan kurangnya drainase 
·      Sebaiknya sitem drainase pada kampung Luar Batang di rawat agar tidak sering terjadinya banjir
·      Lalu warga atau pengunjung yang berada pada kawasan Kampung Luar Batang tidak membuang sampah sembarangan
·       Perbanyak Tempat pembuangan Sampah agar masyarakat dan para pendatang membuang sampah tidak sembarangan. Apabila melanggar maka ditegaskan
2. Penataan pada kawasan harus sesuai dengan peruntukan yang telah di tetapkan oleh undang - undang, karena kawasan kampung Luar Batang sudah semakin padat
3. Pedagang dilarang berjualan di area yang bukan untuk tempat berjualan dan di area yang mengganggu sirkulasi untuk masuk ke Masjid
4. Dibuat dan diatur lagi untuk penataan parkiran, karena parkir tidak rapih

KONSERVASI ARSITEKTUR

Konservasi Arsitektur Pelestarian Cagar Budaya 
Kawasan Kampung Luar Batang

BAB III
GAMBARAN KAWASAN

Di belakang Gedung Museum Bahari, jalan Pasar Ikan sebuah kawasan kota tua di Jakarta utara, terletak Kampung Luar Batang. Kampung yang terletak di Kelurahan Penjaringan ini merupakan pemukiman tertua di Jakarta. Diperkirakan, pemukiman ini mulai dibangun pada tahun 1630-an. Kampung ini boleh dikatakan sudah dikenal sejak ratusan tahun lalu.
Kampung Luar Batang berdekatan dengan pantai dan beberapa pemukiman menengah atas seperti Pluit, Pemukiman Terpadu Pantai Mutiara dan Muara Angke.
-     Sebagai pusat bermukimnya masyarakat golongan menengah kebawah mayoritas penduduknya bekerja di sektor informal dengan bidang usaha perdagangan 
-     Pada tahun 1970-an kampung ini terkena program KIP-MHT, dimana dengan adanya program ini maka kampung menjadi lebih terbuka dengan kawasan sekitarnya 
-     Kampung Luar Batang menjadi semakin memposisikan diri sebagai pusat penyedia rumah tinggal yang murah 
(Sumber : GoogleMap)


3.1 Masjid Luar Batang
Kampung Luar Batang adalah sebuah peninggalan sejarah yang dipercaya sebagai pemukiman tertua di Jakarta yang telah berdiri sejak tahun 1630. Yang paling terkenal dari kampung ini adalah masjidnya, yaitu Masjid Luar Batang. Masjid Luar Batang merupakan landmark dari kampung Luar batang. Pada kampung luar batang ini di tempati oleh para keluarga nelayan, dan kampung luar batang ini masih kental oleh rumah adat suku betawi. 
Bentuk Akulturasi Budaya yang ada di Masjid Keramat Luar Batang
a)      Bentuk Atap
-     Bentuk atap dari Masjid Luar Batang yang berbentuk limas sangat dipengaruhi oleh bentuk bentuk atap masjid yang ada di daerah Jawa Barat dan Jawa Tengah
-     Sedangkan atap masjid yang menjadi “acuan” dari Masjid Luar Batang cenderung mengadopsi  bentuk atap Pura Hindu Bali
(Sumber : Anekatempatwisata.com)
(Summber  Wartakota.Tribunnews.com)
b)     Akulturasi Pemakaman
-     Pemakaman dalam Islam memiliki aturannya sendiri terutama yang berkaitan dengan posisi makam, bagian kepala dan kaki, serta bahkan bentuk pemakaman
-     Kreasi-kreasi lewat ukiran, atau lukisan pada bagian-bagian batu nisan, cungkup, gapura Makam-makam yang dianggap keramat ditempatkan dipemakaman khusus. 
(Sumber : Travel.detik.com)

3.2 Rumah Penduduk
Pada Kampung Luar Batang ini kebanyak rumah penduduk yaitu rumah adat betawi yang khas dengan list planknya yaitu disebut "Gigi Balang"
Khas Rumah Adat Suku Betawi Memiliki Gigi Balang

3.3 Kawasan Kampung Luar Batang
Pada Kawasan Kampung Luar Batang ini banayk ditempat oleh para nelayan, karena daerah ini merupak daerah pelabuhan. Perahuu tersebut dapat berfungsi sebagai transportasi dan juga mengangkut para turis yang datang.
Sumber : bettylovesblogging.com

Sumber : Antarafoto.com

Sumber : en.wikipedia.org
3.4 Analisis place theory pada Kampung Luar Batang 
           Berdasarkan teori Place juga didapatkan penekanan adanya suatu makna dari tempat di lokasi sebuah kota (Zhand dalam Trancik, 1986) – Berdasarkan teori Punter (1991) ada tiga unsur pembentuk place yaitu physical setting, activities, dan  meaning 
  • Physical setting: Landmark berupa masjid Luar Batang cenderung bersifat fleksibel dan mengikuti perkembangan jaman meskipun secara fisik bangunannya telah mengalami perubahan. Aktifitas penggunaan dari Masjid Luar Batang cenderung semakin meningkat dikarenakan masjid ini memiliki nilai ke sakralan yang tinggi
  • Activities: Gambaran tingkah laku pemakai dan fungsi tempat tersebut dan cenderung berkembang seusai dengan perkembangan waktu è perayaan Maulid Nabi, Idul Fitri dan Idul Adha, pedagang kaki lima dan sebagai pengemis 
  • Meaning: Pola pikir dimana almarhum Habib Hussein bin Abubakar Alaydrus merupakan orang yang sakti dan memiliki beberapa karomah, bahkan walau hanya berjiarah kemakamnya maka hajat/keinginnya dapat terkabul  


KONSERVASI ARSITEKTUR


Konservasi Arsitektur Pelestarian Cagar Budaya 
Kawasan Kampung Luar Batang

BAB II
UPAYA PELESTARIAN KAMPUNG LUAR BATANG

2.1 Tindakan Pelestarian
Berdasarkan hasil penelusuran dan pengamatan kawasan Jakarta utara memiliki banyak nilai sejarah historial hingga arsitektural. Hai ini bisa dijadikan suatu nilai tambah khususnya dibidang pariwisata. Maka dari itu pemerintah kota administrasi Jakarta utara bekerja sama dengan dinas pariwisata bekerjasama membuat kawasan pelestarian cagar budaya, yaitu kawasan sejarah kota tua. Untuk itu kawasan dan tempat  tempat tersebut mendapat perhatian lebih dari pemerintah.

2.2. Konservasi
Konservasi adalah upaya pelestarian lingkungan, tetapi tetap memperhatikan, manfaat yang dapat di peroleh pada saat itu dengan tetap mempertahankan keberadaan setiap komponen lingkungan untuk pemanfaatan masa depan. Namun menurut Adishakti (2007) istilah konservasi yang biasa digunakan para arsitek mengacu pada Piagam dari International Council of Monuments and Site (ICOMOS) tahun 1981, yaitu Charter for the Conservation of Places of Cultural Significance, Burra, Australia, yang lebih dikenal dengan Burra Charter.
Disini dinyatakan bahwa konsep konservasi adalah semua kegiatan pelestarian sesuai dengan kesepakatan yang telah dirumuskan dalam piagam tersebut. Konservasi adalah konsep proses pengelolaan suatu tempat atau ruang atau obyek agar makna kultural yang terkandung di dalamnya terpelihara dengan baik. Kegiatan konservasi meliputi seluruh kegiatan pemeliharaan sesuai dengan kondisi dan situasi lokal maupun upaya pengembangan untuk pemanfaatan lebih lanjut.
Suatu program konservasi sedapat mungkin tidak hanya dipertahankan keasliannya dan perawatannya namun tidak mendatangkan nilai ekonomi atau manfaat lain bagi pemilik atau masyarakat luas. Dalam hal ini peran arsitek sangat penting dalam menentukan fungsi yang sesuai karena tidak semua fungsi dapat dimasukkan. Kegiatan yang dilakukan ini membutuhkan upaya lintas sektoral, multi dimensi dan disiplin, serta berkelanjutan.
Tujuan dari kegiatan konservasi, antara lain :
a.      Memelihara dan melindungi tempat-tempat yang indah dan berharga, agar tidak hancur atau berubah sampai batas-batas yang wajar.
b.      Menekankan pada penggunaan kembali bangunan lama, agar tidak terlantar. Apakah dengan menghidupkan kembali fungsi lama, ataukah dengan mengubah fungsi bangunan lama dengan fungsi baru yang dibutuhkan.
c.       Melindungi benda-benda cagar budaya yang dilakukan secara langsung dengan cara membersihkan, memelihara, memperbaiki, baik secara fisik maupun khemis secara langsung dari pengaruh berbagai faktor lingkungan yang merusak.
d.      Melindungi benda-benda (dalam hal ini benda-benda peninggalan sejarah dan purbakala) dari kerusakan yang diakibatkan oleh alam, kimiawi dan mikro organisme.
2.3 Pengertian Kampung
Berdasarkan beberapa kajian mengenai kampung disamping memiliki beberapa kesamaan mengenai kondisi kampung dimana kampung selalu berkembang secara tidak terencana. Bahkan berkembangnnya kampung di kota bertujuan sebagai “wadah” adaptasi bagi masyarakat desa yang tinggal di kota dengan segala macam ritual dan budaya yang masih dipegang teguh dari nenek moyangnya masing-masing.   Keberadaan kampung di perkotaan yang cenderung dekat dengan berbagai pusat kegiatan ditinjau dari keberadaan (legalitas) terdapat dualisme yaitu kampung yang berkembang tidak sesuai dengan peruntukannya dan kampung yang berkembang sesuai dengan peruntukan tata ruang  kota. Kampung yang berkembang sesuai dengan tata ruang kota dan sah legalitasnya menjadi salah satu elemen perkotaan yang berperan sebagai penyedia pemukiman bagi berbagai lapisan masyarakat karena adanya pengaruh globalisasi.
2.4 Teori Pelestarian Kampung Luar Batang
Teori pelestarian kampung luar batang yaitu menggunakan konsep pengembangan revitalisasi. Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, Revitalisasi berarti proses, cara, dan perbuatan menghidupkan kembali suatu hal yang sebelumnya kurang terberdaya. Sebenarnya revitalisasi berarti menjadikan sesuatu atau perbuatan menjadi vital. Sedangkan kata vital mempunyai arti sangat penting atau perlu sekali (untuk kehidupan dan sebagainya). Pengertian melalui bahasa lainnya revitalisasi bisa berarti proses, cara, dan atau perbuatan untuk menghidupkan atau menggiatkan kembali berbagai program kegiatan apapun. Atau lebih jelas revitalisasi itu adalah membangkitkan kembali vitalitas. Jadi, pengertian revitalisasi ini secara umum adalah usaha-usaha untuk menjadikan sesuatu itu menjadi penting dan perlu sekali.
Revitalisasi termasuk di dalamnya adalah konservasi-preservasi merupakan bagian dari upaya perancangan kota untuk mempertahankan warisan fisik budaya masa lampau yang memiliki nilai sejarah dan estetika-arsitektural. Atau tepatnya merupakan upaya pelestarian lingkungan binaan agar tetap pada kondisi aslinya yang ada dan mencegah terjadinya proses kerusakan.Tergantung dari kondisi lingkungan binaan yang akan dilestarikan, maka upaya ini biasanya disertai pula dengan upaya restorasi, rehabilitasi dan/atau rekonstruksi.Jadi, revitalisasi adalah upaya untuk memvitalkan kembali suatu kawasan atau bagian kota yang dulunya pernah vital/hidup, akan tetapi kemudian mengalami kemunduran/degradasi.
Selain itu, revitalisasi adalah kegiatan memodifikasi suatu lingkungan atau benda cagar-budaya untuk pemakaian baru. Revitalisasi fisik diyakini dapat meningkatkan kondisi fisik (termasuk juga ruang-ruang publik) kota, namun tidak untuk jangka panjang. Untuk itu, tetap diperlukan perbaikan dan peningkatan aktivitas ekonomi (economic revitalization) yang merujuk kepada aspek sosial-budaya serta aspek lingkungan (environmental objectives). Hal ini mutlak diperlukan karena melalui pemanfaatan yang produktif, diharapkan akan terbentuklah sebuah mekanisme perawatan dan kontrol yang langgeng terhadap keberadaan fasilitas dan infrastruktur kota.
Revitalisasi pada Kampung Luar Batang yaitu wisata bahari diarahkan sebagai kawasan dengan wisata rohani dan penunjang di sekitar Mesjid Luar Batang. Adanya revitatalisasi tersebut sehingga Masjid Luar Batang merupakan landmark pada kawasan Kampung Luar Batang.
-     Pada gambar dibawah merupakan bentuk gerbang Masjid Luar Batang di tahun 1916. Tampak pada bagian depan terdapat beberapa simbol yang berkaitan dengan Islam seperti bulan sabit dan bintang. Selain itu tampak pada sebelah kanan dan kiri terdapat tulisan arab gundul berupa “Masjid Keramat”
(Sumber : http://soulofjakarta.com)

-     Pada tahun 1990-an bentuk gerbang telah dirubah secara drastis pada saat renovasi masjid secara total pada tahun 1950-an. Bentuk interior masjid, sebelum mengalami renovasi pada tahun 1950-an tidak terdokumentasikan secara rinci. Namun jika dilihat berdasarkan gambar disamping tampak hasil renovasi masjid, dimana terdapat perubahan over-hang (sosoran) yang terbuat dari plat.
-     Bentuk perubahan lain yang tampak nyata adalah ornamen Islami yang dibuat tampak lebih nyata berupa kaligrafi dengan lafadz “Sabillah Alaudrus” dalam tulisan Arab.

(Sumber : kabarpenjaringan.blogspot.com)
-     Pada tahun 2005, terjadi renovasi dan pembangunan ulang kembali keseluruhan komplek masjid. Akibat dengan adanya pembangunan secara total tersebut, maka bentuk dari gerbang masjid kembali berubah, namun perubahan tidak terlalu signifikan seperti sebelumnya, perubahan mencakup bentuk kaligrafi dan warna.
Sumber : http://soulofjakarta.com

KONSERVASI ARSITEKTUR


Konservasi Arsitektur Pelestarian Cagar Budaya 
Kawasan Kampung Luar Batang

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Sejarah Kawasan Kampung Luar Batang
Di belakang Gedung Museum Bahari, jalan Pasar Ikan sebuah kawasan kota tua di Jakarta utara, terletak Kampung Luar Batang. Kampung yang terletak di Kelurahan Penjaringan ini merupakan pemukiman tertua di Jakarta. Diperkirakan, pemukiman ini mulai dibangun pada tahun 1630-an.Kampung ini boleh dikatakan sudah dikenal sejak ratusan tahun lalu. Kampung nelayan yang termasuk dalam Kelurahan Penjaringan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara. Ada dua pendapat mengenai asal usul kampung, yang pertama menyebutkan bahwa wilayah Luar Batang berada di luar batas pemisah berupa batang kayu yang dibuat Belanda di muara Sungai Ciliwung. Patek.ini dibuat untuk mernisahkan kegiatan perdagangan Belanda di Pelabuhan Sunda Kelapa dengan para nelayan. Perahu nelayan harus berlabuh di luar batang kayu, di sebelah barat sehingga daerah ini kemudian dinamakan Luar Batang. Pendapat kedua, berawal dari makam AI Habib Husein bin Abubakar Alaydrus. Saat akan dimakarnkan di pemakaman pemerintah di Tanah Abang (Taman Prasasti), sesuai kehendak Belanda, temyata jenazahnya sudah tidak ada di tempat usungan yang berupa kurun batang. Jenazah sudah berada di dekat mesjid yang kemudian disebut Kampung Luar Batang. Dari "Makam Kramat Luar Batang" inilah awal dari kampung Kramat Luar Batang.
Sejarah Kampung Luar Batang sendiri berawal sejak masa pemerintahan Belanda pada abad ke-18. Kampung yang berada di luar kawasan Pelabuhan Sunda Kelapa ini dibatasi pemerintah dengan batang pohon. Kawasan di luar batas ini menjadi tanda untuk warga harus membayar retribusi bila memasuki pelabuhan. Lokasi di luar batas batang pohon tersebut selanjutnya disebut Kampung Luar Batang.Lokasi pemukiman Luar Batang dulunya merupakan rawa-rawa. Lama kelamaan rawa-rawa itu tertimbun lumpur dari kali Ciliwung, terutama setelah dibangunnya Kampung Muara Baru, yang kini juga merupakan kawasan kumuh di dekat Luar batang.

(Sumber : http://soulofjakarta.com)

Sejak masa VOC, pihak penguasa sering mendatangkan tenaga kerja guna membangun pelabuhan dan kastil Batavia. Para pekerja di lokasi itu berdatangkan dari berbagai daerah. Mereka juga ditempatkan di Kampung Luar Batang. Jadi, kekumuhan pemukiman tertua di Jakarta yang luasnya 16,5 hektar itu sudah berlangsung sejak awal masa VOC. Pasar yang ada kala itu dan kini dikenal dengan nama Pasar Ikan baru dibangun pada tahun 1846. Lokasi Pasar Ikan ini dulunya merupakan laut.

(Sumber : http://soulofjakarta.com)

(Sumber : www.bettylovesblogging.com)

Ketika aktivitas utama pelabuhan Sunda Kelapa akibat pengdangkalan dialihkan ke Tanjung Priok (1886), lokasi sekitar pemukiman Luar Batang tetap padat. Hal ini dikarenakan aktivitas perahu dan pelabuhan Pasar Ikan (Sunda Kelapa) tetap berjalan. Saat ini, Kampung Luar Batang penduduknya sangat padat karena lokasinya berdekatan dengan berbagai pusat akivitas. Kondisinya semakin kumuh ketika urbanisasi besar-besaran terjadi pada 1950-1960, akibat terganggunya keamanan. Dalam periode itu terjadi beberapa pemberontakan seperti DI/TII dan Kahar Muzakar.
Letak Kampung Kramat Luar Batang dekat dengan pantai laut Jawa sehingga banyak mempengaruhi iklim dan lingkungan hidup masyarakatnya. Dulu keadaan alam kampung ini masih berupa empang-empang dan lautan semak yang berawa-rawa. Rawa-rawa ini kemudian ditimbun untuk dijadikan tempat tinggal penduduk. Tanah terbentuk dari endapan lumpur di muara sungai sehingga tidak padat. Air tanahnya mengandung garam sehingga tidak bisa digunakan untuk air minum. Penduduk kampung terdiri dari orang asli Betawi dan pendatang dari Jawa Barat, Madura, Jawa Tengah, Bugis, dan Makasar. Para pendatang dari Sulawesi Selatan umumnya bekerja di bidang perkayuan. Sedang yang dari Jawa, Madura, Sunda, dan Betawi kebanyakan menjadi buruh pelabuhan atau industri. 


Kamis, 11 Januari 2018

Kritik Arsitektur terhadap Istana Bogor

SEJARAH ISTANA BOGOR


Istana Bogor adalah istana terindah dari enam Istana Kepresidenan RI. Keunikannya tentu saja adalah keindahan danau dan Kebun Raya Bogor yang melingkupinya serta rusa-rusa jinak yang sengaja didatangkan dari Nepal. Istana Bogor dahulu disebut “Buitenzorg” yang artinya “tanpa kekhawatiran”. Pada 1744, Gubernur Jenderal van Imhoff terkesima dengan kedamaian sebuah desa kecil di Bogor dan berencana membangun istana di sini. Istana Bogor awalnya dibuat 3 tingkat dan dibuat menyerupai Blehheim Palace di Oxford, Inggris.
Pada 10 Oktober 1834, Gunung Salak meletus dan menyebabkan istana ini roboh akibat gempa vulkanik. Pada tahun 1850, istana ini dibangun kembali, namun hanya satu lantai karena kondisi Indonesia yang sering dilanda gempa. Sejak tahun 1870-1942, istana ini telah menjadi tempat kediaman resmi dari 38 gubernur jenderal Hindia Belanda dan satu gubernur jenderal Inggris, siapa lagi kalau bukan Raffles. Bak Gedung Putih, istana ini juga menyimpan ratusan karya seni seperti lukisan karya Basuki Abdullah, patung Hercules, dan patung Pegasus



KRITIK DESKRIPTIF ISTANA BOGOR

Istana Bogor mempunyai bangunan induk dengan sayap kiri serta kanan. Keseluruhan kompleks istana mencapai luas 1,5 hektare.
Bangunan induk Istana Bogor terdiri dari
  • Bangunan induk istana berfungsi untuk menyelenggarakan acara kenegaraan resmi, pertemuan, dan upacara.
  • Sayap kiri bangunan yang memiliki enam kamar tidur digunakan untuk menjamu tamu negara asing.
  • Sayap kanan bangunan dengan empat kamar tidur hanya diperuntukan bagi kepala negara yang datang berkunjung.
  • Bangunan ini termasuk lima paviliun terpisah.
  • Kantor pribadi Kepala Negara
  • Perpustakaan
  • Ruang makan
  • Ruang sidang menteri-menteri dan ruang pemutaran film
  • Ruang Garuda sebagai tempat upacara resmi
  • Ruang teratai sebagai sayap tempat penerimaan tamu-tamu negara.
  • Kaca Seribu
  • Bangunan tersebut dikelilingi oleh taman yang luas dan kolam yang indah yang membuat nuansa di sekitar bangunan menjadi lebih nyaman.

sumber :

Selasa, 04 April 2017

Sabtu, 25 Maret 2017

Tugas Studi Ekskursi 1

DUBAI Ø¯Ø¨ÙŠّ


Lokasi Dubai

Dubai berlokasi di Uni Emirat Arab





Dubai
Berhubungan (kota)
9 Juni 1833
Berhubungan (emirat)
2 Desember 1971
Pendiri
Ibu kota
Dubai
Sub-pembagian
Pemerintahan
 • Jenis
 • Emir
Luas[2]

 • Emirat
4.114 km2 (1,588 sq mi)
 • Metro
1.287,4 km2 (4,971 sq mi)
Populasi (2008)

 • Emirat
2.262.000
 • Kepadatan
408,18/km2 (105,720/sq mi)
 • Metro
2.262.000
 • Nationality [4]
42,3% Indian
17% 
Emirat
13,3% 
Pakistan
7,5% 
Bangladesh
9,1% 
Arab lainnya
10,8% Barat
Waktu standar UEA (UTC+4)
Situs web



























Sheikh Zayed Road di Dubai pada malam hari

Dubai (dalam bahasa Arab: Ø¯Ø¨ÙŠّ, DubaÄ«y) adalah satu dari tujuh emirat dan kota terpadat di Uni Emirat Arab (UEA). Terletak di sepanjang pantai selatan Teluk Persia di Jazirah Arab. Kotamadya Dubai kadang-kadang disebut Kota Dubai untuk membedakannya dari emirat.
Dokumen tertulis menyatakan keberadaan kota ini selama 150 tahun sebelum pembentukan UEA. Dubai berbagi kekuasaan hukum, politik, militer dan ekonomi dengan emirat lain dalam lingkaran federal, meskipun setiap emirat memiliki yurisdiksi terhadap beberapa kekuasaan seperti penegakan hukum sipil dan pemantauan dan pembaharuan fasilitas lokal. Dubai memiliki populasi terbesar dan merupakan emirat terbesar kedua menurut luasnya, setelah Abu Dhabi.  Dubai dan Abu Dhabi adalah satu-satunya dua emirat yang memiliki hak veto terhadap masalah kritis kepentingan nasional dalam Dewan Nasional Federal negara itu. Dubai telah dipimpin oleh dinasti Al Maktoum sejak 1833. Pemimpinnnya saat ini, Mohammed bin Rashid Al Maktoum, juga menjabat sebagai Perdana Menteri dan Wakil Presiden UEA.
Pendapatan emirat berasal dari perdagangan, real estat dan pelayanan keuangan. Pendapatan dari minyak bumi dan gas alam menyumbang kurang dari 6% (2006) ekonomi Dubai senilai US$37 miliar (2005). Real estat dan konstruksi, menyumbang 22.6% kepada ekonomi tahun 2005, sebelum musim konstruksi berskala besar yang berlangsung hingga sekarang. Dubai telah menarik perhatian dunia melalui proyek real estat yang inovatif dan ajang olahraga. Hal ini meningkatkan perhatian, bersamaan dengan kepentingannya sebagai hub bisnis dunia, telah juga mengangkat masalah hak asasi manusia mengenai terlibatnya banyak tenaga kerja asing

Sejarah

            Distrik Al Ras di Deira, Dubai tahun 1960-an

Sangat sedikit diketahui mengenai budaya pra-Islam di tenggara jazirah Arab, kecuali banyak kota kuno di wilayah itu yang menjadi pusat perdagangan antara dunia Timur dan Barat. Sisa dari rawa mangrove kuno, berusia 7.000 tahun, ditemukan ketika pembangunan jalur selokan bawah tanah dekat Dubai Internet City. Wilayah ini ditutupi pasir sekitar 5.000 tahun yang lalu setelah garis pantai mundur dari daratan, menjadi bagian dari garis pantai kota saat ini. Sebelum Islam, orang-orang di wilayah ini menyembah Bajir (atau Bajar). Kekaisaran Bizantium dan Sassaniyah memiliki kekuasaan besar pada masa itu, dengan Sassaniyah yang menguasai sebagian besar wilayah. Setelah penyebaran Islam di sana, Khalifah Umayyah, dari dunia Islam timur, memperluas wilayahnya ke tenggara Arabia dan mengalahkan Sassaniyah. Penggalian yang dilakukan oleh Dubai Museum di wilayah Al-Jumayra (Jumeirah) membenarkan keberadaan beberapa artefak dari periode Umayyah. Sebutan Dubai yang pertama kali dicatat adalah pada tahun 1095, di "Book of Geography" oleh ahli geografi Andalusia-Arab Abu Abdullah al-Bakri. Pedagang permata Venesia Gaspero Balbi mengunjungi wilayah ini pada 1580 dan menyebutkan Dubai (Dibei) karena industri permatanya. Catatan yang mendokumentasikan kota Dubai muncul setelah 1799.
Di awal abad ke-19, klan Al Abu Falasa (Dinasti Al-Falasi) dari klan Bani Yas mendirikan Dubai, yang menjadi bagian dari Abu Dhabi hingga 1833. Tanggal 8 Januari 1820, sheikh Dubai dan sheikh lainnya di daerah itu menandatangani "Perjanjian Damai Maritim Umum" dengan pemerintah Britania. Tetapi, tahun 1833, dinasti Al Maktoum (juga keturunan Dinasti Al-Falasi) dari suku Bani Yas meninggalkan permukiman Abu Dhabi dan mengambil ailh Dubai dari klan Abu Falasa tanpa perlawanan. Dubai berada dibawah perlindungan Britania Raya oleh "Perjanjian Eksklusif" tahun 1892, dengan menyetujui perlindungan Dubai terhadap serangan apapun dari Kekaisaran Ottoman. Dua bencana menyerang kota ini pada pertengahan 1800-an. Pertama, tahun 1841, sebuah epidemi cacar muncul di permukiman Bur Dubai, memaksa penduduk pindah ke timur di Deira. Kemudian, tahun 1894, kebakaran terjadi di Deira, menghanguskan banyak rumah. Tetapi, lokasi geografis kota terus menarik pedagang dan penjual dari seluruh wilayah itu. Emir Dubai gencar-gencarnya menarik pedagang asing dan menurunkan pajak perdagangan, yang menarik pedagang dari Sharjah dan Bandar Lengeh, yang merupakan hub dagang utama pada masa itu.

 
Al Fahidi Fort, dibangun tahun 1799, adalah bangunan tertua di Dubai

Dekatnya geografi Dubai dengan India menjadikannya sebagai lokasi penting. Kota Dubai adalah pelabuhan pedagang asing penting, khususnya dari India, banyak di antaranya menetap di kota itu. Dubai dikenal karena ekspor permatanya hingga 1930-an. Tetapi, industri permata Dubai mengalami dampak dari Perang Dunia I, dan kemudian Depresi Besar tahun 1920-an. Akibatnya, kota ini mengalami migrasi massal penduduk ke bagian lain Teluk Persia. Sejak pendiriannya, Dubai berselisih dengan Abu Dhabi. Tahun 1947, sengketa perbatasan antara Dubai dan Abu Dhabi di sektor utara perbatasan resminya, berubah menjadi perang antar kedua emirat. Arbitrasi oleh Britania dan pembangunan pagar yang membentang ke tenggara dari pantai di Ras Hassian menghasilkan penghentian tembak-menembak. Tetapi, sengketa perbatasan antara kedua emirat berlanjut bahkan setelah pembentukan UEA; pada 1979 perjanjian formal tercapai yang mengakhiri tembak-menembak dan sengketa perbatasan antara dua emirat. Listrik, telepon dan bandar udara didirikan di Dubai tahun 1950-an, ketika Britania memindahkan kantor administratif lokalnya dari Sharjah ke Dubai. Tahun 1966 kota ini bergabung dengan negara Qatar yang baru merdeka untuk menetapkan satuan mata uang baru, Riyal Qatar/Dubai, setelah deflasi rupee Teluk. Minyak ditemukan di Dubai pada tahun yang sama, setelah itu kota ini memberikan konsesi pada perusahaan minyak internasional. Penemuan minyak ini membawa Dubai pada masuknya pekerja asing dalam jumlah besar, terutama dari India dan Pakistan. Akibatnya, populasi kota sejak 1968 hingga 1975 naik menjadi 300%, oleh beberapa perkiraan.
Tanggal 2 Desember 1971 Dubai, bersama Abu Dhabi dan lima emirat lainnya, membentuk Uni Emirat Arab setelah bekas pelindung Britania meninggalan Teluk Persia tahun 1971. Tahun 1973, Dubai bergabung dengan emirat lain untuk menggunakan mata uang tunggal: Dirham UEA. Tahun 1970-an, Dubai terus tumbuh dari pendapatan yang diperoleh dari minyak dan perdagangan, bahkan setelah kota ini mendapat masukan imigran Lebanon yang mengungsi dari perang sipil di LebanonZona Bebas Jebel Ali, terdiri dari pelabuhan Jebel Ali (dikatakan sebagai pelabuhan buatan terbesar di dunia) didirikan tahun 1979, yang menyediakan impor buruh dan kapital ekspor tak terbatas kepada perusahaan asing.
Perang Teluk Persia 1990 memiliki dampak besar terhadap kota ini. Secara ekonomi, bank di Dubai mengalami penarikan dana yang cukup besar karena kondisi politik tak menentu di wilayah itu. Selama 1990-an, bagaimanapun, banyak komunitas dagang asing — pertama dari Kuwait, selama Perang Teluk, dan kemudian dari Bahrain, selama kerusuhan Syiah — memindahkan bisnis mereka ke Dubai. Dubai menyediakan pangkalan pengisian bahan bakar kepada pasukan sekutu di zona bebas Jebel Ali selama Perang Teluk Persia, dan lagi, selama Invasi Irak 2003. Peningkatan besar harga minyak setelah Perang Teluk Persia memaksa Dubai terus fokus pada perdagangan bebas dan pariwisata. Kesuksesan zona bebas Jebel Ali membolehkan kota ini menggunakan modelnya untuk membangun kumpulan zona bebas baru, seperti Dubai Internet CityDubai Media City dan Dubai Maritime City. Pembangunan Burj Al Arab, hotel berdiri bebas tertinggi di dunia, juga pembangunan permukiman baru, juga digunakan untuk memasarkan Dubai dalam bidang pariwisata. Sejak 2002, kota ini mengalami peningkatan investasi real estat pribadi dalam membentuk kembali langit-langit Dubai dengan proyek seperti The Palm IslandsThe World Islands dan Burj Dubai. Tetapi, pertumbuhan ekonomi yang kuat dalam beberapa tahun terakhir disebabkan oleh nilai inflasi yang naik (11.2% pada tahun 2007 ketika dihitung terhadap Indeks Harga Konsumen) yang digabungkan karena harga penyewaan perkantoran dan permukiman yang berlipat ganda, mengakibatkan peningkatan substansial biaya hidup bagi para penghuninya

Transportasi


Abra adalah mode angkutan tradisional antara Deira dan Bur Dubai.
Bandar Udara Internasional Dubai (IATA: DXB), hub bagi Emirates Airline, melayani kota Dubai dan emirat lain di negara ini. Bandar udara ini melayani 34 juta penumpang dan 260.000 penerbangan pada 2007. Bandar Udara Internasional Dubai menempati peringkat ke-17 di antara bandar udara internasional lainnya menurut lalu lintas kargo pada 2006. Terminal ketiga dan concourse baru dibuka bulan Oktober 2008, melayani penerbangan Emirates.Terminal baru ini akan ditujukan pada Emirates Airline dan mendukung penuh Airbus A380. Pembangunan Bandar Udara Internasional Dubai World Central, sedang dibangun di Jebel Ali, diumumkan tahun 2004. Fase pertama dijadwalkan selesai tahun 2008, dan setelah beroperasi bandar udara baru ini akan melayani maskapai asing. Emirates (penerbangan penumpang dan kargo) akan tetapi di Bandar Udara Internasional Dubai.
Dubai memiliki sistem bus besar yang melayani 69 rute dan mengangkut sekitar 90 juta orang pada 2006. Road and Transport Authority (RTA) mengumumkan tahun 2006 bahwa 620 bus baru akan ditambahkan ke armadanya yang terdiri dari 170 bus bertingkat dua.Meskipun mode transportasi utama di Dubai adalah melalui kendaraan pribadi, Dubai juga memiliki sistem taksi yang besar.
Sebuah proyek Dubai Metro senilai $3.89 miliar sedang dibangun di emirat ini. Sistem metro ini dijadwalkan beroperasi setengahnya tahun 2009 dan beroperasi penuh tahun 2012. Dubai Metro akan terdiri dari empat jalur: Jalur Hijau dari Al Rashidiya ke pusat kota utama dan Jalur Merah dari bandar udara ke Jebel Ali. Juga memiliki jalur biru dan ungu, Dubai Metro (Jalur Hijau dan Biru) akan memiliki rel sepanjang 70 kilometer dan 43 stasiun, 33 di atas tanah dan sepuluh di bawah tanah. Satu metode yang lebih tradisional untuk menyeberangi Bur Dubai ke Deira adalah melalui abra, perahu kecil yang mengangkut penumpang melintasi Dubai Creek, antara stasiun abra di Bastakiya dan Baniyas Road.
Bulan Juli 2007, jaringan tol jalan Salik dipasang di Sheikh Zayed Road dan di Jembatan Al Garhoud; stasiun tol akan sepenuhnya otomatis dan mengumpulkan tol sebanyak AED4 )US$1.08) per kendaraan.




KONSERVASI ARSITEKTUR

Konservasi Arsitektur Pelestarian Cagar Budaya  Kawasan Kampung Luar Batang BAB IV USULAN DAN PELESTARIAN KAWASAN 4.1 Kesimpula...